Kuatkan Karakter dengan Ilmu Al-Qur’an di Tengah Negara Minoritas

Suherni Sulaeman -  Wajib disyukuri jika kita berada di negara yang penduduknya mayoritas Muslim. Tentu saja hal ini adalah sebuah anugerah dan keistimewaan. Berbeda dengan saudara-sudara kita yang beragama Muslim yang tinggal di negara-negara lain, terlebih negara minoritas Muslim. Tak menutup kemungkinan, mereka menghadapi masa-masa sulit dalam menjalankan keyakinannya. Butuh perjuangan ekstra untuk tetap istiqamah menjalankan keislamannya.

Akan tetapi yang satu ini patut mendapat apresiasi. Salah satu komunitas Muslim, tepatnya di kota dengan penduduk terbesar ketiga di Jerman setelah Berlin dan Hamburg, yaitu München, mendirikan TPA atau Taman Pendidikan Anak-anak. Komunitas yang diberi nama Pengajian Masyarakat Muslim München atau disingkat PM3 itu membina sebuah TPA bagi masyarakat Muslim yang tinggal di sana. 

Kepada tim Media Rumah Tajwid, Kepala Sekolah TPA PM3, Susi Andriani atau yang akrab dipanggil Kak Uchie ini menerangkan bahwa TPA PM3 memiliki 4 (empat) program. Program pertama untuk anak-anak berumur 3 tahun sampai 6 tahun atau kindergarten. Program kedua untuk anak Sekolah Dasar, dari umur 7 sampai 9 atau 10 tahun. Program ketiga untuk anak remaja kecil yang berusia 10 tahun sampai 15 tahun dan anak remaja besar berusia sekitar 16 tahun hingga 19 tahun. Dan, terakhir di atas usia 19 tahun sampai tak terbatas.

Secara singkat, Kak Uchie pun telaten memaparkan satu persatu isi program-program tersebut. Untuk usia kindergarten, kegiatan belajar dilakukan dengan konsep belajar sambil bermain. Akan tetapi, di program ini anak-anak sudah diajarkan belajar membaca doa, mengenal Nabi, dan lain sebagainya.

“Jadi kalau untuk anak-anak kindergarten lebih banyak ke arah bermain sambil belajar agama Islam. Mereka juga menggambar yang bertema Islam, atau menonton video tentang tema-tema agama Islam atau cerita Nabi,” ujar wanita berkacamata itu. 

Kemudian, bagi anak-anak usia sekolah dasar diutamakan untuk belajar mengaji. Dan, kegiatan mengaji ini merupakan kerjasama dengan Rumah Tajwid. Hal itu dikarenakan, para pengajar yang mengajarkan anak-anak tersebut sebagian besar adalah peserta didik Rumah Tajwid.

“Yang pertama itu adalah belajar mengaji yang diketuai Mbak Lina. Akhirnya, kami mengambil jalan, ‘kenapa kita nggak memakai dari buku Mutqin?’. Sehingga anak-anak ini ingin kita arahkan ke sana,” tutur Kak Uchie.

“Jadi pada saat kita mengajarkan, intinya mereka bisa membaca Al-Qur'an; mengerti huruf hijaiyah. Kedua, mereka belajar mengenal agama Islam. Seperti rukun Islam, rukun iman, belajar mengenal nama-nama malaikat, nama-nama sifat Allah, nama-nama Nabi dan Rasul-Nya,” imbuh Kak Uchie.

Mengapa demikian? Kak Uchie pun memberikan alasan. Pasalnya, tinggal di negara minoritas seperti di Jerman, sekolah-sekolah tidak memberikan pelajaran agama Islam. Alhasil, ini menjadi tugas bersama untuk mengakomodasi hal-hal yang tidak diperoleh anak-anak.

Namun, yang terpenting adalah bagaimana anak-anak ini bersikap dan merasa bangga sebagai anak Muslim, yaitu dengan mengajak mereka mencintai agama Islam, lantaran mereka tertarik datang ke TPA dengan hati yang senang dan tidak terpaksa.

Alhamdulillah sekarang ini anak-anak itu cukup senang. Karena kita bukan hanya belajar Al-Qur'an secara monoton tapi juga dibarengi dengan bermain dan mereka juga berkumpul dengan anak-anak Muslim lainnya,” terangnya.

Sementara itu, untuk anak remaja usia 10 hingga 15 tahun, difokuskan belajar akhlak, fiqih, dan mengerti ayat-ayat Al-Qur'an. Khusus di program ini, TPA PM3 memiliki guru spesial, yaitu seorang mualaf yang menikah dengan orang Indonesia.

“Jadi beliau sendiri yang menawarkan pada kita, dia ingin mengajarkan anak-anak remaja Indonesia di Jerman ini. Nah, ternyata memang banyak sekali orang tua yang positif dengan ini sehingga beliau sendiri sudah mempersiapkan bahan-bahan untuk anak-anak. Tadinya tatap muka langsung, tapi saat ini beliau sedang di Indonesia jadi dilakukan secara online,” kata Kak Uchie.

Demikian pula dengan anak-anak remaja, karena tahu betul mereka pun kurang memperoleh ilmu agama di sekolah, di program ini pun diajarkan tafsir, fiqih, aqidah, dan sebagainya. Ini salah satu upaya menampung keinginan-keinginan orang tua Muslim di München. Apalagi, nyatanya sekarang malah melebar, orang tua di hampir seluruh Jerman ingin ikut diberi pelajaran agama Islam di TPA PM3.

“Ya, untuk menekankan bahwa anak-anak kita ini harus bangga sebagai Muslim di Jerman. Sebagai karakter, anak-anak kita harus kuat. Jadi di poin ini ditekankan kepada aqidah ajaran agama Islam,” tegasnya.

Terakhir, TPA PM3 mengajarkan anak-anak remaja berusia 16 tahun sampai 19 tahun dan para orang tua yang juga kurang atau belum belajar Al-Qur'an. “Jadi kita juga ingin punya program yang intinya untuk mengajarkan Al-Qur'an. Jadi melalui buku Mutqin, tetapi yang lebih advance,” pungkas Kak Uchie.

Share:
Comments